Thank you for give us a message ! We’ll reach you as soon as possible.

Back to Home Page
Work with us
Apply as Freelancer
Got Question ?

You have read our website and still have question(s) left. Please, don’t be shy and ask us.

What can we do for you? We would love to listen and discuss your concerns. Let’s collaborate and make right product for your business.


If you like to work with new people and have passion to turn a challenge into something awesome, join us!

Jalan Titiran 7, Bandung
40133, West Java, Indonesia
+62-22-2531318
hello@labtekindie.com

Apa itu Design Thinking?

Secara harfiah, Design Thinking bisa dipahami sebagai sebuah metode yang ditujukan untuk mendesain cara seseorang berfikir. Menurut sejarahnya, Design Thinking adalah sebuah metode pemecahan masalah yang pertama kali dikembangkan oleh Tim Brown. Pemecahan masalah ini dinilai efektif karena dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan user. Meski istilah Design Thinking telah dikenal secara luas, tetapi tidak semua orang memahami apa esensi dari Design Thinking dan bagaimana metode tersebut diimplementasikan?

Labtek Indie dan Design Thinking

Labtek Indie merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan Design Thinking sebagai guideline dalam kegiatan bisnisnya. Sebagai inti dari Labtek Indie, Design Thinking tidak hanya menjadi framework dari kegiatan internal-operational perusahaan, tetapi juga di dalam kegiatan bisnis bersama dengan klien Labtek Indie.

 

Pemilihan Design Thinking tidak didasarkan hanya kepada fleksibilitasnya terhadap multi disiplin, tetapi juga terhadap keefektifannya dalam memecahkan sebuah masalah melalui sebuah inovasi. Mengutip perkataan Tim Brown, sebagai pengembang metode Design Thinking, inovasi cenderung bersifat “technocentric”. Maksudnya adalah, sebuah gagasan dapat disebut sebagai sebuah inovasi jika memenuhi syarat “technology feasible”. Selain itu, sebuah inovasi juga harus mendorong ekonomi perusahaan dan memenuhi “desirability” dari penggunanya.

 

Design Thinking dikembangkan berdasarkan tiga nilai tersebut. Design Thinking diciptakan sebagai sebuah pendekatan untuk mengubah sebuah ide menjadi sebuah inovasi yang memenuhi syarat dari ketiga komponennya: manusia, bisnis dan teknologi.

 

Sebagai perusahaan yang fokus terhadap research dan development dari produk teknologi, Labtek Indie menilai pendekatan yang ditawarkan oleh Design Thinking dapat memberikan solusi yang tepat bagi user dari produk teknologi yang diciptakan.

 

Dalam prosesnya, Design Thinking menggunakan human-centered approach yang ditujukan untuk dapat memahami permasalahan ataupun kebutuhan yang dimiliki oleh user. Hal ini juga yang menjadi keunggulan dari penggunaan metode Design Thinking. Melalui metode ini, setiap orang yang terlibat di dalam proses, dimotivasi untuk menempatkan dirinya sebagai user dari produk teknologi yang akan mereka tawarkan. Pada tahapan ini, seseorang didorong untuk mendefinisikan secara rinci karakteristik dari user. Apa yang mereka butuhkan, inginkan dan rasakan akan diolah menjadi rangkaian gagasan. Dari rangkaian gagasan tersebut, akan terlahir beberapa solusi konkrit yang pada akhirnya akan diwujudkan secara visual dalam bentuk prototyping dan diperkokoh lagi dengan feedback dari setiap orang yang terlibat di dalam proses.

How it works?

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dapat memberikan begitu banyak dampak positif, tetapi tidak sedikit perusahaan menjadi ‘latah’ dalam mengimplementasikannya. Pengetahuan mengenai trend teknologi terbaru memang perlu diketahui, tetapi tidak semuanya dapat diimplementasikan. Hal ini dikarenakan apa yang teknologi baru tawarkan belum tentu sesuai dengan apa yang konsumen atau user anda butuhkan. Oleh karena itu proses pendekatan terhadap konsumen perlu dilakukan sebelumnya.

 

Labtek Indie selalu menempatkan Design Thinking sebagai sebuah ‘pembuka’ sebelum melalukan proses development produk teknologi. Dengan Design Thinking yang dilakukan di awal, Labtek Indie dan perusahaan yang mengikuti prosesnya, akan memahami kebutuhan dari user yang dituju. Melalui proses ini, tidak hanya kebutuhan yang muncul dipermukaan yang dapat terdeteksi, tetapi juga kebutuhan dasar yang melatarbelakangi adanya kebutuhan-kebutuhan yang lain.

 

Hal ini tentu saja akan memberikan dampak positif terhadap perusahaan karena produk yang dikembangkannya akan dapat memenuhi kebutuhan dari user-nya. Selain itu, proses Design Thinking akan mendorong seluruh anggota yang berpartisipasi untuk meninjau dan memahami kembali user yang ditargetkan oleh perusahaan. Ini akan mendorong mereka untuk menciptakan ide-ide yang tepat. Ide-ide ini pada akhirnya akan melahirkan solusi yang cocok dengan kebutuhan yang ada.

 

Proses Design Thinking yang dilakukan oleh Labtek Indie mengikuti standar dan guideline yang diterapkan oleh IDEO U. Berdasarkan hal tersebut, maka terdapat lima tahapan yang bersifat iteratif dan fleksible, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype dan Test.

 

Iteratif menunjukan bahwa proses ini akan terjadi berulang. Saat sebuah ide telah memasuki tahap test, feedback akan masuk sebagai bahan dasar pengembangan ide di tahap selanjutnya. Dan tahapan-tahapan Design Thinking tersebut akan dilakukan secara berulang. Tetapi dalam implementasinya, Labtek Indie akan menganalisis terlebih dahulu tahapan apa saja yang akan dibutuhkan oleh sebuah perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

 

Tahapan Design Thinking dapat dimulai dari Ideate, jika memang analisis terhadap user telah dilakukan sebelumnya. Atau, tahapan dapat dilakukan dari prototyping ketika ide-ide telah didapatkan tetapi perusahaan tidak memahami bagaimana hal tersebut nantinya akan menciptakan experience dari user.

 

Perbedaan proses Design Thinking dalam Labtek Indie terdapat pada proses Ideate atau Ideasi. Untuk memenuhi kebutuhan data dari pengembangan produk, terdapat tambahan feature yang dimasukan di dalam proses Ideate: user stories. User stories merupakan feature yang mengkombinasikan pemahaman mengenai stakeholder dengan proses generating idea. Melalui feature ini, ide dihasilkan akan spesifik sesuai dengan perspektif user, sales, potential buyer dan bahkan kompetitor. Dengan begitu, ide yang dihasilkan akan tetap on track dengan visi diawal proses ini, yaitu memecahkan masalah. Selain itu, hasil dari user stories juga merupakan ‘jembatan’ yang menghubungkan Design Thinking dengan proses selanjutnya, yaitu Scrum.

 

Design Thinking yang dilakukan di awal akan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak, yaitu pemahaman yang lebih baik mengenai user. Solusi dan ide yang hadir juga akan sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan keinginan dari user. Proses Design Thinking juga mendorong setiap orang yang berpartisipasi untuk menjadi lebih open minded dan aktif untuk berkontribusi. Hal ini dapat memunculkan ide-ide potensial yang mungkin saja tersimpan di benak setiap karyawan tanpa pernah termotivasi untuk mengutarakannya. Ini akan mengeliminasi budaya free riding yang biasanya ditemui dalam proses brainstorming konvensional.

 

Selain melalui proses visualisasi (prototyping), Labtek Indie juga memperkuat proses Design Thinking yang dijalankan dengan metode Scrum, sehingga proses pengembangan dapat dilakukan dengan cepat. Proses ini pada akhirnya akan meminimalisasi kesalahan dan kerugian waktu dan sumber daya yang ditimbulkan dari kesalahan dalam proses pengembangan produk teknologi. Dengan menggunakan proses Design Thinking, kesalahan akan lebih cepat terdeteksi dan lebih cepat teratasi, dan produk teknologi yang dihasilkan akan lebih sesuai.


How to contact us?

Tulisan di atas memberikan gambaran singkat dari alasan mengapa Labtek Indie menggunakan Design Thinking serta bagaimana Labtek Indie menggunakannya dalam pendekatan untuk memberikan solusi atas masalah yang dihadapi klien serta bagaimana Design Thinking digunakan secara internal. 

Jangan lupa untuk selalu ikuti berbagai informasi dan sharing yang dilakukan Labtek Indie di blog ini, Anda juga bisa follow akun media sosial Labtek Indie di sini: Twitter, Facebook, Instagram dan LinkedIn. Ingin tahu lebih lanjut bagaimana Labtek Indie bisa membantu Anda, bisa kirim email ke: hello@labtekindie.com.





Ghea Raema

Ghea Raema

Content Writer. Occasionally a writer. 60s soul behind the analog camera and a collection of peculiar things. Arts and Books slave. Honestly, just being a friend with technology, and evidently it’s fun.

Content Writer. Occasionally a writer. 60s soul behind the analog camera and a collection of peculiar things. Arts and Books slave. Honestly, just being a friend with technology, and evidently it’s fun.

Things you might like