Thank you for give us a message ! We’ll reach you as soon as possible.

Back to Home Page
Work with us
Apply as Freelancer
Got Question ?

You have read our website and still have question(s) left. Please, don’t be shy and ask us.

What can we do for you? We would love to listen and discuss your concerns. Let’s collaborate and make right product for your business.


If you like to work with new people and have passion to turn a challenge into something awesome, join us!

Jalan Titiran 7, Bandung
40133, West Java, Indonesia
+62-22-2531318
hello@labtekindie.com

Meeting, Brainstorming, lalu lahirlah sebuah ide. Ide adalah hal abstrak yang sebenarnya mudah untuk diucapkan dan dirumuskan. Lalu  bagaimana Anda tahu bahwa seberapa tepat ide yang Anda miliki?

 

Spoiler: Kata-kata saja tidak cukup.

Perkenalkan, Namanya Prototype

Dalam proses Design Thinking, kita mengenal lima tahapan yang saling berkesinambungan dan salah satunya adalah Prototype. Setelah pada tahap Ideate kita mengkoleksi ide-ide sebanyak mungkin, maka kita harus melangkah ke tahap Prototype.

 

Prototype sendiri adalah tahapan yang ditujukan untuk mentransformasi sifat-sifat abstrak dari sebuah ide menjadi lebih berwujud. Tahapan ini tidak hanya berupa proses visualisasi ide tetapi juga proses pembangunan ide.

 

Secara umum, Prototype memiliki dua kategori: low-fidelity dan high-fidelity. Proses prototyping yang digunakan di dalam Design Thinking adalah low-fidelity atau Rapid Prototyping. Proses ini menekankan kepada pembuatan proses pembuatan yang cepat, mudah, murah dan basic.

 

Aturannya hanya satu: prototype tidak harus dibuat sebagus mungkin tetapi digunakan agar ide tersebut lebih dapat dimengerti.

Mengapa Prototype Begitu Penting?

Lima alasan kenapa Prototype dalam Design Thinking itu penting:

Interaksi dan Pengalaman

Dengan melalukan prototype, Anda tidak hanya dapat membayangkan, berasumsi atau memperkirakan bagaimana sikap konsumen terhadap produk yang kita buat. Anda dapat merasakannya sendiri.

 

Proses prototyping akan menciptakan sebuah stories mengenai ide kita dan pada akhirnya menciptakan sebuah experience. Dengan begitu Anda akan memahami dan mengerti apa dan bagaimana proses desain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

 

Hal ini akan membawa Anda kembali lagi ke akar masalah secara cepat, dan melihat ketepatan solusi atau ide yang Anda tawarkan. Proses ini akan membawa kita kembali pada tahapan Empathize dan Define, karena kita melakukan identifikasi permasalahan dengan sudut pandang baru dan juga pengetahuan yang baru.

Re-branch the idea

Dengan memahami hasil dari interaksi diri Anda dan partner Anda dengan prototype, Anda dapat memahami apa yang kurang, mengukur kekuatan dari ide Anda, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih perlu dijawab.

 

Seperti yang diungkapkan oleh Aycan dan Lorenzoni, tahapan low-fidelity prototype menstimulus Anda untuk memikirkan macam-macam kemungkinan pemecahan masalah. Hal ini bisa saja mengantar anda kepada ide-ide lainnya yang dapat digunakan di dalam proses pengembangan produk atau jasa.

Hemat Biaya

Prototype jenis low-fidelity tidak mengharuskan Anda menggunakan bahan-bahan yang ‘wow’ sebagai representasi sebuah ide. Kertas, gunting, lem, kardus sudah lebih dari cukup untuk mewujudkan kumpulan ide-ide yang telah aAda dapatkan di tahapan Ideate.

 

Dengan bahan-bahan yang bisa ditemukan disekitar Anda ini memberikan kepastian bahwa Anda bisa membuatnya sendiri. Tidak perlu pusing untuk menyewa tenaga ahli hanya untuk melihat bentuk dari ide Anda. Coba bayangkan berapa banyak budget perusahaan yang bisa disimpan?

Time Friendly

Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membuat sebuah prototype? 1 minggu? 1 bulan atau 1 tahun? Dalam proses Design Thinking, Anda bisa membuat prototype kurang dari 1 jam. Hal ini dikarenakan kemudahan pembuatan prototype dari bahan-bahan yang Anda mengerti bagaimana menggunakannya. Proses ini juga tidak berbelit-belit sehingga Anda tidak perlu menunggu terlalu lama hanya untuk mengetahui seberapa tepat dan cocok sebuah ide sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada.

Catatan Sebelum Memulai Prototyping

Ada hal yang Anda harus pahami sebelum membuat prototype. Prototyping merupakan bagian dari circle Design Thinking, dan proses tersebut bukanlah tahapan terakhir. Hasil dari Prototyping bukan berarti itu produk terakhir Anda, tetapi prototype dan penilaian mengenainya, dapat dijadikan sebagai awal dan dasar dari pengembangan yang akan dilakukan selanjutnya.


Follow akun media sosial Labtek Indie di sini: Twitter, Facebook, Instagram dan LinkedIn untuk mendapatkan update dari konten-konten menarik seputar Design Thinking. Ingin tahu lebih lanjut bagaimana Labtek Indie bisa membantu Anda, bisa kirim email ke: hello@labtekindie.com.


Artikel diolah dari berbagai sumber: Academy.Autodesk.comInteraction-Design.org, dan Innovationexcellence.comGambar diolah dari: Pexels 1, Pexels 2, Pexels 3.





Ghea Raema

Ghea Raema

Content Writer. Occasionally a writer. 60s soul behind the analog camera and a collection of peculiar things. Arts and Books slave. Honestly, just being a friend with technology, and evidently it’s fun.

Content Writer. Occasionally a writer. 60s soul behind the analog camera and a collection of peculiar things. Arts and Books slave. Honestly, just being a friend with technology, and evidently it’s fun.

Things you might like

Review

Design Thinking Bersama Indosat

Labtek Indie berkesempatan memberikan workshop di acara Growth Partners: Capability Building 2017 di Gedung Djakarta Theatre bersama tim sales Indosat. Dalam acara ini, Labtek Indie menjadi salah satu fasilitator yang mempresentasikan Design Thinking.

By Ghea Raema | July 24, 2017